LOWONGAN KERJA

Dicari Cepat, Lowongan Pekerjaan Untuk Wanita Dalam Negeri


Suatu Perusahaan Sepatu Olahraga d’Serang - Banten, Membuka Lowongan Pekerjaan Untuk 50 Wanita.
1. Tidak Sistem Kontrak,
2. Pendidikan Min. SMU / sederajat,
3. Usia Min. 18 Maks. 28,
4. Tinggi badan Min. 150,
5. Gaji Memuaskan…
6. Lamaran masuk dalam jangka waktu satu minggu langsung panggilan.
Pendaftaran Paling Lambat Tanggal 07 Mei 2010 Lowongan tersebut Khusus untuk Wilayah Slawi, Tegal, Brebes dan Sekitar’nya.
Terima kasih.
Bila Berminat Hub. Saya, ARIFIYAN NOOR SYAMS
HP. 085642722405

RESUME STUDI KASUS

1. Pengertian Studi Kasus

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.

Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

2. Jenis-jenis Studi Kasus

  1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi mi sening kunang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.

  1. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan

Ciri-ciri Semangat Kerja yang Tinggi

"Ciri-ciri yang dipakai untuk mengukur tinggi rendahnya
semangat kerja yang dimiliki karyawan"


Sebagian besar mengacu pada pendapat Maier yang menyebutkan ada empat konsep dasar yang mencerminkan semangat kerja yang tinggi yaitu, antara lain :

a. Kegairahan atau antusias (Zest, Enthusiasm). 

Maier mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki kegairahan dalam bekerja berarti juga memiliki motivasi atau dorongan untuk bekerja, motivasi tersebut akan terbentuk bila kurang memiliki keinginan atau minat dan kegembiraan dalam melakukan pekerjaannya. Keinginan atau minat karyawan bekerja mencerminkan adanya dorongan karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan. Keinginan karyawan untuk bekerja dikatakan kuat bila karyawan melakukannya bukan karena adanya perasaan cemas.

b. Kualitas untuk bertahan (Staying Quality)

Setiap orang tentu mempunyai tujuan tertentu dalam bekerja dan berusaha untuk mencapainya, makin besar usaha individu untuk mengatasi kesulitan dalam mencapai tujuannya, menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki semangat kerja yang tinggi. Maier menyatakan bahwa individu tetap berusaha mencapai tujuan semula meskipun mengalami kesulitan, ini menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki kualitas untuk bertahan.

c. Kekuatan melawan frustasi (Resistence to Frustation)

Maier menyatakan bahwa kekuatan melawan frustasi berbeda dengan kualitas untuk bertahan, meskipun secara umum keduanya mencerminkan bagaimana individu tersebut menghadapi rintangan yang ditemui selama bekerja. Pada aspek ini Maier melibatkan suatu hal yang menarik untuk mengetahui semangat kerja individu, yaitu frustasi.

d. Semangat berkelompok. 

Semangat kerja menurut buku Multipal Personal Administration yaitu; bahwa semangat kerja adalah, sikap perorangan atau sikap kelompok dari masing-masing individu terhadap pekerjaan dan lingkungan pekerjaan.



Pensiun dan Gejala Depresi

Salah satu masa dalam rentang kehidupan manusia yang rentan terhadap depresi adalah masa pensiunan

Menurut Blakburn dan Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) ada beberapa kondisi yang menyebabkan pensiunan mengalami depresi, antara lain: 

Pertama, Pensiun [baik itu pegawai negeri, swasta, maupun yang bergelut dalam dunia bisnis] seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi kelak. Dalam era modern seperti sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa mendatangkan kepuasan (karena uang, jabatan dan memperkuat harga diri). Oleh karenanya, sering terjadi orang yang pensiun bukannya bisa menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya, ada yang malahan mengalami problem serius (kejiwaan atau pun fisik).

Kedua; usia, banyak orang yang takut menghadapi masa tua karena asumsinya jika sudah tua, maka fisik akan makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat hidup makin terbatas. Pensiun sering diidentikkan dengan tanda seseorang memasuki masa tua. Banyak orang mempersepsi secara negatif dengan menganggap bahwa pensiun itu merupakan pertanda dirinya sudah tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi karena usia tua dan produktivitas makin menurun sehingga tidak menguntungkan lagi bagi perusahaan atau organisasi tempat mereka bekerja. Seringkali pemahaman itu tanpa sadar mempengaruhi persepsi seseorang sehingga ia menjadi over sensitif dan subyektif terhadap stimulus yang ditangkap. Kondisi ini lah yang membuat orang jadi sakit-sakitan saat pensiun tiba.

Lebih lanjut Marie Blakburn dan Kate Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) mengemukakan bahwa gejala-gejala psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, adalah sebagai berikut : 1. Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah. 2. Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah. 3. Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain. 4. Perilaku, di tandai dengan gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh, 5) Hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat seksual, tidur terganggu.

Menurut Kim, J., E. dan Moen, P., (dalam Rini 2001) dari Cornell University meneliti hubungan antara pensiun dengan depresi. Keduanya menemukan: Wanita yang baru pensiun cenderung mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang sudah lama pensiun atau bahkan yang masih bekerja, terutama jika sang suami masih bekerja; Pria yang baru pensiun cenderung lebih banyak mengalami konflik perkawinan dibandingkan dengan yang belum pensiun; Pria yang baru pensiun namun istrinya masih bekerja cenderung mengalami konflik perkawinan lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang sama-sama baru pensiun namun istrinya tidak bekerja; Pria yang pensiun dan kembali bekerja dan mempunyai istri yang tidak bekerja, maka keduanya memiliki semangat lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang keduanya sama-sama tidak bekerja.

Semangat Kerja bagi Karyawan

Persaingan dunia usaha yang semakin meningkat, menuntut perusahaan-perusahaan terus membenahi diri (Frontliner) tetapi juga bisa melanda para pekerja di tingkat atas (managerial level). Oleh karena itu banyak perusahaan yang melakukan berbagai upaya pencegahan. dengan meningkatkan mutu dan kualitas output dari perusahaan itu, cara dilakukan untuk meningkatkan out put adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di perusahaan itu sendiri. Salah satu aspek penting dalam sumber daya manusia adalah semangat kerja. Pada dunia kerja, semangat kerja sangat penting mengingat hal tersebut dapat mempengaruhi produktivitas kerja pegawai. Kebosanan kerja bisa terjadi bukan saja pada pekerja di tingkat bahwa

Kossen (dalam Kurniawati, 2002) mengemukakan bahwa sikap karyawan yang berkaitan dengan kondisi semangat kerjanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: organisasi itu sendiri, aktivitas-aktivitas kerja karyawan itu sendiri, sifat dari pekerjaan, teman-teman sejawat, pimpinan mereka, konsep diri, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka.

Sedangkan menurut Flippo (dalam Kurniawati, 2002) faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya semangat kerja, antara lain: upah kerja, keamanan kerja, kondisi fisik kerja, penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan, pimpinan yang mampu dan adil, kesempatan untuk maju dan mengembangkan diri, kecocokan dan keserasian dengan rekan kerja, keuntungan baik fisik maupun psikis, status sosial yang diterima karyawan dan kegiatan yang bermanfaat bagi karyawan.

Semangat kerja sangat penting dalam segala aktivitas kerja, bahkan semangat kerja akan menentukan lancar-tidaknya atau berkembang-tidaknya suatu perusahaan. Oleh sebab itu setiap organisasi kerja atau perusahaan harus menjaga agar semangat kerja itu tetap tinggi. Namun hal tersebut bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap kondisi semangat kerja.

Dari dua pendapat Kossen dan Flippo di atas menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi semangat kerja beragam mulai dari faktor dalam organisasi, aspek psikologis individu, interaksi dan komunikasi dengan rekan sekerja, atasan, serta aspek dari pekerjaan itu sendiri, seperti beban kerja dan gaji yang diberikan pada karyawan.

Seorang karyawan yang memiliki semangat kerja yang baik tentunya akan memberikan sikap yang positif seperti kesetiaan, kegembiraan, kerja sama, kebanggaan dalam dinas dan ketaatan dalam kewajiban. Berbeda dengan karyawan yang memiliki semangat kerja yang rendah, karena karyawan tersebut cenderung menunjukkan sikap yang negatif seperti suka membantah, merasa gelisah dalam bekerja dan merasa tidak nyaman.

Keyword

2020 (1) BK (4) Bahaya (2) Bimbingan (4) Bimbingan dan Konseling (5) Bisnis (1) Ganja (1) Gratis (3) Individu (4) Internet (1) Kiat (3) Koneksi (1) Konseli (2) Konseling (3) Konselor (1) Lucu (2) Motivasi (2) Narkoba (1) Remaja (3) SMA (2) Sabu (1) Satlan (3) Satuan Layanan (3) Selingkuh (1) Tegal (1) Tips dan Trik (6) Tutorial (3) Wanita (1) Warnet (1) Website (1) alasan (2) artikel (2) belajar (2) cerita lucu (1) dampak (3) download (3) fakta (3) guyon (1) humor (1) imsonia (2) kasus (1) kode rahasia (1) lawak (1) makalah (1) motiv (1) ngakak (1) online (1) pemakai (1) penyebab (3) siswa (4) studi (2) study (2) terjadi (2)